Aku punya seorang sahabat namanya Sintya Azzahra. Dia anak yang paling nggak bisa menyebut kata maaf ketika melakukan kesalahan, pernah dia memecahkan botol kaca mahal milik Miranda. Miranda hampir menangis. Dia tak menyebut kata maaf, dia juga pernah menghilangkan pensil punya Tiara. Sebut saja namaku Silfia Mutiara sebut saja aku Mutia, sudah sering kali aku menasihati Sintya tapi dia mengacuhkannya.
“Mutia, nanti sore temenin aku yah, ke swalayan oke!” kata Sintya suatu hari.
“Emm, oke deh. Tapi jam berapa?” tanyaku seraya mencomot pisang goreng, dan memakannya.
“Jam 01.30 ya,” jawab Sintya. “Oke.” kring kring bel sudah berbunyi. Berarti waktunya masuk kelas deh.
Bu Olivia mengajar pelajaran bahasa indonesia. Tak terasa bel pulang berbunyi.
“Emm, oke deh. Tapi jam berapa?” tanyaku seraya mencomot pisang goreng, dan memakannya.
“Jam 01.30 ya,” jawab Sintya. “Oke.” kring kring bel sudah berbunyi. Berarti waktunya masuk kelas deh.
Bu Olivia mengajar pelajaran bahasa indonesia. Tak terasa bel pulang berbunyi.
“Huhh!” dengusku kesal karena cape.
“Kak tolong minta tambahan uang Rp. 2000 kata Mama.” seru adikku Vino.
Aku membuka dompet hijau unguku bergambar barbie, aku mencomot duit Rp. 2000.
“Nih!” kataku seraya memberi duit dua ribu rupiah.
“Thanks Kak,” seru adikku. “Ya.” jawabku pendek.
“Kak tolong minta tambahan uang Rp. 2000 kata Mama.” seru adikku Vino.
Aku membuka dompet hijau unguku bergambar barbie, aku mencomot duit Rp. 2000.
“Nih!” kataku seraya memberi duit dua ribu rupiah.
“Thanks Kak,” seru adikku. “Ya.” jawabku pendek.
Jam 01.00 aku langsung mandi mengganti baju dengan drees selutut, baju barbie berwarna oranye. Sekarang lengkap aku segera menyalakan sepeda beatku, lalu menuju ke arah rumah Sintya. “Duh, mana yah, si Sintya?” tanyaku sendiri. “Woyy!” seru seorang perempuan.
“Sintya, yuk ahh,” seruku segera menjalankan sepedaku menuju ke Quality Swalayan.
“Sintya, yuk ahh,” seruku segera menjalankan sepedaku menuju ke Quality Swalayan.
Di Quality Swalayan….
“Emm, kita ke tempat buku, anak!” kata Sintya.
“Waduh, bagus banget, yang ini bukunya, buku nabi beli ajalah, yang ini buku tata rambut beli, sekarang ke tempat aksesoris,” kami segera ke tempat aksesoris, aku cape mengikuti Sintya terus huh.
“Emm, kita ke tempat buku, anak!” kata Sintya.
“Waduh, bagus banget, yang ini bukunya, buku nabi beli ajalah, yang ini buku tata rambut beli, sekarang ke tempat aksesoris,” kami segera ke tempat aksesoris, aku cape mengikuti Sintya terus huh.
“Wah bando ini lucu, klip ini juga manik-manik ini aduh bagus banget berkilau.” seru Sintya. Segera kami makan di restoran dekat swalayan. Tak sengaja Sintya menumpahkan jus mangganya ke bajuku, padahal ini baju kesayanganku. “Sintya, aaw,” pekikku lemas. “Oow, oh,” seru Sintya tanpa nada bersalah.
“Udah, Sintya cukup aku mau pulang. Aku sudah cape sahabatan sama kamu, sekarang persahabatan kita putus di sini. Titik nggak pakai koma!” kataku marah pada Sintya.
“Udah, Sintya cukup aku mau pulang. Aku sudah cape sahabatan sama kamu, sekarang persahabatan kita putus di sini. Titik nggak pakai koma!” kataku marah pada Sintya.
Sintya hampir menumpahkan air mata penyesalan. Aku segera ke luar dari restoran itu. Sayup-sayup ku dengar suara Sintya. “Maaf, sebesar-besarnya yah Mutia. Juga sama teman-teman di sekolah maaf, maaf, maaf, dan maaf, terutama kamu, Tiara, dan tentunya Mirandaaa!” seru Sintya dengan nada menyesal aku kembali ke restoran.
“Aku sudah memaafkan kok, sudah dari dulu, aku gitu tadi, berharap kamu bisa bilang kata maaf dari kamu, oke sekarang bayar, lalu pulang.” jelasku panjang lebar. Setelah membayar kami segera pulang. Leganya dengar kata maaf dari Sintya. Semoga Sintya bisa menyebut kata maaf ketika melakukan kesalahan.
“Aku sudah memaafkan kok, sudah dari dulu, aku gitu tadi, berharap kamu bisa bilang kata maaf dari kamu, oke sekarang bayar, lalu pulang.” jelasku panjang lebar. Setelah membayar kami segera pulang. Leganya dengar kata maaf dari Sintya. Semoga Sintya bisa menyebut kata maaf ketika melakukan kesalahan.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar